APPLICATION
OF QUANTUM LEARNING TEACHING MODEL WITH WORK GROUP TO IMPROVE THE
LEARNING RESULT OF ELECTRICAL MEASUREMENT GRADE X IN SMK JAKARTA I.
Andi Haryono
Alumni Angkatan 2013 Program Studi Pendidikan Teknik
Elektronika
Dr. Rusmono
Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi
Pendidikan Teknik Elektronika
Pembimbing 1
Dini Anggraini
Mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Reguler
2012
(5215122639)
ABSTRACT
The study begin on preliminary observations In
grade X In SMK Jakarta 1 TITL academic
year 2012/2013 show that : (1) In the classroom the students don't listen to the teacher
teaching, (2) students don't write when the teacher teaches, (3 )
students don't want to ask questions, (4) students tend to be fearful to answer questions given by
the teacher, (5) student got bad mark of electrical measurement values.
Therefore, the purpose of this study is to improve the quality of learning to
achieve optimal learning outcomes in order to improve and enhance the quality of teaching and learning
in the classroom.
This study used a qualitative approach to get
the data and analysis. Development of the subjects are based on data and
information from students and teachers through the 3 stages of the cycle.
Classroom Action Research (CAR) can Improve student learning outcomes and the
students' activities are carried out using Quantum Teaching Learning Model with
group work. Target of the study are
students in grade
X TTTL SMK Jakarta 1, East Jakarta
semester academic year 2012/2013. To support the teaching learning in
Electrical Measurements subject will be
applicable to students of class X Mechanical Installations of Electric Power
(TTTL) through 3 stages of the cycle of teaching prepares material source
consisting of a syllabus, RPP,
Module,JobSheet
and Students worksheet
Base on the results of the
evaluation average students in the first cycle was 79.21 with Kkm 75. In the
second cycle was 81.20 with Kkm 75 and on the third cycle was 79.75 with Kkm 75. From
this Implementation Classroom Action Research (CAR), it can be concluded that
the model of learning with Quantum Teaching group work practice can improve the
quality of student
learning. Therefore, it should be
teaching Quantum Teaching Learning model with a variety of group work practice
teaching model Electrical Measurements subjects
Keywords: TOD, Quantum Teaching,
electrical measurement and learning outcomes.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Model mengajar merapakan
sarana interaksi guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Model mengajar yang baik adalah model yang membawa siswa
untuk mencapai tujuan pendidikan dan
melatih kemampuan siswa dalam berbagai kegiatan. Dengan
demikian, siswa harus diberi kesempatan
untuk mengembangkan kemampuannya melalui berbagai kegiatan, baik di
ataupun di luar
sekolah. Untuk memilih suatu
model mengajar perlu
memperhatikan beberapa hal. Seperti materi yang akan disampaikan, waktu yang tersedia
dan banyaknya siswa serta hal lain yang berkaitan
proses pembelajaran.
Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang
kompleks, segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan, prestasi
dan rancangan pengajaran, sejauh proses belajar berlangsung. Hasil belajar
siswa dipengaruhi oleh beragam factor, yang secara garis besar meliputi factor Internal dan eksteral.
Pada umumnya kemampuan siswa dalam satu kelas
cenderung heterogen. Dalam sebuah kelas akan terdapat siswa-siswa yang memiliki
kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Salah satu model pembelajaran yang dapat
memfasilitasi heterogen siswa adalah pembelajaran Quantum Teaching. Quantum
Teaching adalah model pembelajaran yang menumbuhkan semangat belajar secara
giat, kepercayaan diri, dan yang menciptakan sebuah psikologi belajar yang
menyenangkan dalam proses-proses belajar yang didesain kreatif. Dalam model
pembelajaran Quantum Teaching digunakan
kerangka perancangan pengajaran yang dinamakan TANDUR. TANDUR merupakan akronim
dari Tumbuhan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.[1]
(1)Tumbuhkan, maksudnya seorang guru dalam
mengajar harus dapat menimbulkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran dengan
berbagai macam sehingga dengan minat yang ada maka pembelajaran akan dapat
berjalan dengan lancar, (2) Alami, maksudnya seorang guru mengajar harus dapat
menciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh siswanya. Guru dalam
mengajar memberikan contoh peristiwa yang pernah dilihat anak sehari-hari, (3)
Namai, maksudnya seorang guru dalam mengajar menggunakan kata yang mudah
dimengerti, strategi yang mudah dilakukan penyampaian materi dengan multimedia,
(4) Demonstrasikan, maksudnya guru dalam mengajar memberi kesempatan pada siswa
untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, artinya guru dalam mengajar menggunakan
alat peraga untuk mendemostrasikan materi yang diajarkan, sehingga siswa akan
mudah mengingat isi pesan yang disampaikan oleh guru. (5) Ulangi, maksudnya
guru dalam mengajar dapat menunjukkan cara yang mudah untuk mengulang materi.
Misalnya dengan memberikan rangkuman yang diajarkan dan (6) rayakan, maksudnya
seorang guru dalam mengajar dapat memberikan pengakuan atas usaha siswa untuk
menyelesaikan tugas dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan.
Model pembelajaran dapat menciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif sehingga peserta didik akan tertarik dan berminat
untuk belajar. Kerangka TANDUR bahwa peserta didik mengalami pembelajaran,
berlatih, menjadikan isi pelajaran nyata bagi mereka sendiri dan dapat
meningkatkan hasil belajar.
PEMBAHASAN
Kajian
Pustaka dan Kerangka Berpikir
1.
Kajian Pustaka
Teori
Hasil Belajar Melakukan Pengukuran Besaran Listrik
Terdapat beberapa pendapat oleh para ahli
pendidikan tentang pengertian hasil belajar. Menurut Reigeluth hasil belajar
merupakan hasil belajar yang diinginkan dan bias juga berupa akibat nyata
sebagaimana hasil penggunaan metode pengajaran tertentu. Menurut Nana Sudjana
hasil belajar pada hakikatnya perubahan tingkah laku. Menurut Sardiman hasil
belajar banyak dipengaruhi komponen-komponen yaitu, materi, metode yang
diterapkan, media yang digunakan dan factor lain yang ikut mempengaruhi
keberhasilan siswa ialah soal hubungan antara guru dan siswa. Menurut Bloom perubahan
perilaku meliputi 3 ranah, yaitu : (1) kognitif, (2) afektif, dan (3)
psikomotor. Ranah kognitif meliputi tujuan belajar yang berhubungan dengan
pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual dan keterampilan. Ranah
afektif meliputi tujuan belajar yang menjelaskan perubahan sikap, minat,
nilai-nilai, dan pengembangan apresiasi serta penyesuaian. Sedangkan ranah
psikomotorik mencakup perubahan perilaku yang menunjukkan bahwa siswa telah
mempelajari keterampilan manipulatif fisik tertentu.
Dalam meningkatkan hasil belajar siswa
disekolah dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, sebagai berikut : (1) Faktor
internal, ialah factor yang berasal dari dalam diri siswa. (2) Faktor
eksternal, ialah factor yang berasal dari luar diri siswa. Adapun bagian-bagian
dari factor internal ialah a) Faktor fisiologis dan b) Faktor psikologis.
Sedangkan bagian-bagian dari factor eksternal ialah a) Faktor lingkungan
keluarga, dan b) Faktor lingkungan sekolah. Melakukan Besaran Listrik adalah
sebuah mata pelajaran yang membahas mengenai jenis dan macam alat ukur listrik
AVO Meter di dalamnya menjelaskan berbagai jenis fungsi dan karakteristik kerja
dari suatu alat ukur listrik.
Dengan mengikuti mata pelajaran ini,
diharapkan siswa mampu memahami cara penggunaan, cara mengukur menghitung suatu
alat ukur listrik, serta memahami berbagai jenis dan fungsi dari suatu alat
ukur listrik, mata pelajaran memiliki kompetensi dasar 2 yang akan di teliti,
yaitu : (1) Melakukan pengukuran besaran listrik.
Standar
Kompetensi Menggunakan Hasil Pengukuran
Untuk mencapai standar kompetensi menggunakan
hasil pengukuran siswa harus sudah menguasai kompetensi dasar 2 berikut : (1)
Melakukan Pengukuran besaran listrik.
Melakukan besaran listrik indikatornya ialah
mendeskripsikan jenis-jenis alat ukur listrik di pasar pekerja, mengukur
tegangan ac dan dc, arus, hambatan menggunakan avo meter, menghitung
menggunakan rumus tegangan (volt), arus (ampere) dan resistor (ohm).
Tujuan kompetensi dasar 2 melakukan besaran
listrik, yaitu :
1.
Siswa kelas X TITL 1 akan dapat menyebutkan
jenis-jenis alat ukur setelah diberikan gambar alat ukur pada avo meter dengan
KKM 75.
2.
Siswa kelas X TITL 1 akan dapat menyebutkan
fungsi-fungsi alat ukur jika diberikan gambar alat ukur avo meter dengan KKM
75, Dan lain sebagainya.
2.
Teori
Quantum Teaching dan Quantum Learning
Model
pembelajaran Quantum Learning
Model
pembelajaran merupakan suatu pola/rencana yang dilakukan untuk mengorganisir
unsur-unsur (komponen-komonen) pembelajaran. Model pembelajaran dalam
penerapannya, secara umum bercirikan lima hal : sintaksis, hubungan guru-murid
(prinsip reaksi guru), sistem sosial, penunjang (sistem pendukung), dan dampak
intruksional (efek pengajaran/pengiring). Quantum
Learning sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya.
“Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi
manusia. Dengan menguntip rumus klasik E=mc2, mereka alihkan energi
itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi. “Sebagai
pelajar, tujuan adalah meraih sebanyak mungkin cahaya : interaksi, hubungan,
inspirasi agar menghasilkan energy cahaya”. Pada kaitan inilah, Quantum Learning menggabungkan
sugestologi, teknik pemercepatan belajar, teori, keyakinan, dan metode
tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan model pembelajaran,
seperti : teori otak kanan/kiri, teori otak triune
(3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori
kecerdasan ganda, pendidikan, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan
simbol (metaphoric learning),
simulasi/permainan.
Beberapa
hal yang penting dicatat dalam Quantum
Learning adalah sebagai berikut. Para siswa dikenali tentang “kekuatan
pikiran” yang tak terbatas. Di tegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi
yang sama dengan yang dimiliki ileh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan
tentang bukti fisik dan ilmiah yang memberikan bagaimana proses otak itu
bekerja. Melalui hasil penelitian Global
learning , dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak
seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat
fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan cara yang menyenangkan. Bagaimana
faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan
kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa
kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus
berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses
belajar. Seriap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan”.
Model
Pembelajaran Quantum Teaching
Terdapat
beberapa pendapat oleh para ahli pendidikan tentang pengertian Quantum Teaching. Berikut dijelaskan
pendapat para ahli pendidikan buku maupun situs internet tengtang pengertian Quantum Teaching. Quantum Teaching merupakan
orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen
belajar. Quantum Teaching menciptakan
lingkungan belajar yang efektif, dengan unsur yang ada pada siswa dan
lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Quantum Teaching dengan kerja kelompok
Hasil Belajar kelas X Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) Pengukuran listrik
SMK Jakarta 1 Jakarta Timur melalui hasil belajar dan hasil praktik dapat
menghasilkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dan menuntut
siswa untuk dapat menguasai kompetensi yang akan dicapai.
Dalam
penggunaan model pembelajaran Quantum
Teaching dengan kerja kelompok dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil
belajar siswa karena dengan menerapkan strategi baru siswa tidak merasa jenuh
sehingga termotivasi dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Pada
siklus I kegiatan yang dirancang oleh peneliti adalah dengan Pre Test dan Post Test dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dengan
kerja kelompok ialah dapat mendeskrisikan jenis-jenis dan fungsi alat alat ukur
besaran listrik dipasar kerja dengan KKM 75 dengan menggunakan modul, dan LKS.
Pada siklus 1 hasil belajar meningkat
dengan nilai rata-rata evaluasi siswa adalah 79,21 dengan tingkat kelulusan
94,44%. Pada siklus 2 belajar meningkat dengan menggunakan Job sheet mempraktikkan mengukur arus, tegangan AC dan DC serta
mengukur resistansi dengan KKM 75, rata-rata evaluasi siswa adalah 81,20 dengan
tingkat kelulusan 100%. Pada siklus ke 3 belajar meningkat dengan menghitung
hasil pengukuran besaran listrik seri maupun pararel dengan rata-rata evaluasi
siswa adalah 79,75 dengan tingkat kelulusan 100 %.
Berdasarkan
hasil prosentase hasil rata-rata siswa, motivasi siswa, perasaan siswa dengan
model pembelajaran Quantum Teaching dengan
kerja kelompok dan pemantauan siklus dapat disimpulkan pengukuran listrik
dengan SK Menggunakan Hasil Pengukuran KD Melakukan pengukuran besaran listrik
melalui model pembelajaran Quantum
Teaching dapat meningkatkan hasil belajar kelas X Teknik Instalasi Tenaga
Listrik (TITL) di SMK Jakarta 1.
DAFTAR PUSTAKA
Bobbi
DePorter, Mike Hernacki. 2000. Quantum
Learning. Bandung : Kaifa.
Miftahul
A’la. 2010. Quantum Teaching . Jogjakarta : Diva Press.
Nana
Sudjana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Bobbi
DePorter, Mark Reardo, Sarah Singer Nourie, 2000. Quantum Teaching. Bandung : Mizan Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar