Sabtu, 07 Juni 2014

TUGAS 5

JURNAL



APPLICATION  OF QUANTUM LEARNING TEACHING MODEL WITH WORK GROUP TO IMPROVE THE LEARNING RESULT OF ELECTRICAL MEASUREMENT GRADE X IN SMK JAKARTA I.
Andi Haryono
Alumni Angkatan 2013 Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika
Dr. Rusmono
Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika
Pembimbing 1
Dini Anggraini
Mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Reguler 2012
(5215122639)

ABSTRACT
The study begin on preliminary observations In grade X  In SMK Jakarta 1 TITL academic year 2012/2013 show that : (1) In the classroom the students don't listen to the teacher teaching, (2) students don't write when the teacher teaches, (3 ) students don't want to ask questions, (4) students tend to be fearful to answer questions given by the teacher, (5) student got bad mark of electrical measurement values. Therefore, the purpose of this study is to improve the quality of learning to achieve optimal learning outcomes in order to improve and enhance the quality of teaching and learning in the classroom.
This study used a qualitative approach to get the data and analysis. Development of the subjects are based on data and information from students and teachers through the 3 stages of the cycle. Classroom Action Research (CAR) can Improve student learning outcomes and the students' activities are carried out using Quantum Teaching Learning Model with group work.  Target of the study are students in grade  X TTTL SMK Jakarta 1, East Jakarta semester academic year 2012/2013. To support the teaching learning in Electrical Measurements subject  will be applicable to students of class X Mechanical Installations of Electric Power (TTTL) through 3 stages of the cycle of teaching prepares material source consisting of a syllabus, RPP, Module,JobSheet and Students worksheet
Base on the results of the evaluation average students in the first cycle was 79.21 with Kkm 75. In the second cycle was 81.20 with Kkm 75 and on the third cycle was 79.75 with Kkm 75. From this Implementation Classroom Action Research (CAR), it can be concluded that the model of learning with Quantum Teaching group work practice can improve the quality of student learning. Therefore, it should be teaching Quantum Teaching Learning model with a variety of group work practice teaching model Electrical Measurements subjects
Keywords: TOD, Quantum Teaching, electrical measurement and learning outcomes.


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Model mengajar merapakan sarana interaksi guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Model mengajar yang baik adalah model yang membawa siswa untuk mencapai tujuan pendidikan dan melatih kemampuan siswa dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian, siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya melalui berbagai kegiatan, baik di ataupun   di   luar  sekolah. Untuk  memilih  suatu  model  mengajar perlu memperhatikan beberapa hal. Seperti materi yang akan disampaikan, waktu yang tersedia dan banyaknya siswa serta hal lain yang berkaitan proses pembelajaran.
Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks, segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan, prestasi dan rancangan pengajaran, sejauh proses belajar berlangsung. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beragam factor, yang secara garis besar meliputi factor Internal dan eksteral.
Pada umumnya kemampuan siswa dalam satu kelas cenderung heterogen. Dalam sebuah kelas akan terdapat siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Salah satu model pembelajaran yang dapat memfasilitasi heterogen siswa adalah pembelajaran Quantum Teaching. Quantum Teaching adalah model pembelajaran yang menumbuhkan semangat belajar secara giat, kepercayaan diri, dan yang menciptakan sebuah psikologi belajar yang menyenangkan dalam proses-proses belajar yang didesain kreatif. Dalam model pembelajaran Quantum Teaching digunakan kerangka perancangan pengajaran yang dinamakan TANDUR. TANDUR merupakan akronim dari Tumbuhan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.[1]
(1)Tumbuhkan, maksudnya seorang guru dalam mengajar harus dapat menimbulkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran dengan berbagai macam sehingga dengan minat yang ada maka pembelajaran akan dapat berjalan dengan lancar, (2) Alami, maksudnya seorang guru mengajar harus dapat menciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh siswanya. Guru dalam mengajar memberikan contoh peristiwa yang pernah dilihat anak sehari-hari, (3) Namai, maksudnya seorang guru dalam mengajar menggunakan kata yang mudah dimengerti, strategi yang mudah dilakukan penyampaian materi dengan multimedia, (4) Demonstrasikan, maksudnya guru dalam mengajar memberi kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, artinya guru dalam mengajar menggunakan alat peraga untuk mendemostrasikan materi yang diajarkan, sehingga siswa akan mudah mengingat isi pesan yang disampaikan oleh guru. (5) Ulangi, maksudnya guru dalam mengajar dapat menunjukkan cara yang mudah untuk mengulang materi. Misalnya dengan memberikan rangkuman yang diajarkan dan (6) rayakan, maksudnya seorang guru dalam mengajar dapat memberikan pengakuan atas usaha siswa untuk menyelesaikan tugas dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan.
Model pembelajaran dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif sehingga peserta didik akan tertarik dan berminat untuk belajar. Kerangka TANDUR bahwa peserta didik mengalami pembelajaran, berlatih, menjadikan isi pelajaran nyata bagi mereka sendiri dan dapat meningkatkan hasil belajar.  
                PEMBAHASAN
Kajian Pustaka dan Kerangka Berpikir
1.       Kajian Pustaka
Teori Hasil Belajar Melakukan Pengukuran Besaran Listrik
Terdapat beberapa pendapat oleh para ahli pendidikan tentang pengertian hasil belajar. Menurut Reigeluth hasil belajar merupakan hasil belajar yang diinginkan dan bias juga berupa akibat nyata sebagaimana hasil penggunaan metode pengajaran tertentu. Menurut Nana Sudjana hasil belajar pada hakikatnya perubahan tingkah laku. Menurut Sardiman hasil belajar banyak dipengaruhi komponen-komponen yaitu, materi, metode yang diterapkan, media yang digunakan dan factor lain yang ikut mempengaruhi keberhasilan siswa ialah soal hubungan antara guru dan siswa. Menurut Bloom perubahan perilaku meliputi 3 ranah, yaitu : (1) kognitif, (2) afektif, dan (3) psikomotor. Ranah kognitif meliputi tujuan belajar yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual dan keterampilan. Ranah afektif meliputi tujuan belajar yang menjelaskan perubahan sikap, minat, nilai-nilai, dan pengembangan apresiasi serta penyesuaian. Sedangkan ranah psikomotorik mencakup perubahan perilaku yang menunjukkan bahwa siswa telah mempelajari keterampilan manipulatif fisik tertentu.
Dalam meningkatkan hasil belajar siswa disekolah dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, sebagai berikut : (1) Faktor internal, ialah factor yang berasal dari dalam diri siswa. (2) Faktor eksternal, ialah factor yang berasal dari luar diri siswa. Adapun bagian-bagian dari factor internal ialah a) Faktor fisiologis dan b) Faktor psikologis. Sedangkan bagian-bagian dari factor eksternal ialah a) Faktor lingkungan keluarga, dan b) Faktor lingkungan sekolah. Melakukan Besaran Listrik adalah sebuah mata pelajaran yang membahas mengenai jenis dan macam alat ukur listrik AVO Meter di dalamnya menjelaskan berbagai jenis fungsi dan karakteristik kerja dari suatu alat ukur listrik.
Dengan mengikuti mata pelajaran ini, diharapkan siswa mampu memahami cara penggunaan, cara mengukur menghitung suatu alat ukur listrik, serta memahami berbagai jenis dan fungsi dari suatu alat ukur listrik, mata pelajaran memiliki kompetensi dasar 2 yang akan di teliti, yaitu : (1) Melakukan pengukuran besaran listrik.
Standar Kompetensi Menggunakan Hasil Pengukuran
Untuk mencapai standar kompetensi menggunakan hasil pengukuran siswa harus sudah menguasai kompetensi dasar 2 berikut : (1) Melakukan Pengukuran besaran listrik.
Melakukan besaran listrik indikatornya ialah mendeskripsikan jenis-jenis alat ukur listrik di pasar pekerja, mengukur tegangan ac dan dc, arus, hambatan menggunakan avo meter, menghitung menggunakan rumus tegangan (volt), arus (ampere) dan resistor (ohm).
Tujuan kompetensi dasar 2 melakukan besaran listrik, yaitu :
1.       Siswa kelas X TITL 1 akan dapat menyebutkan jenis-jenis alat ukur setelah diberikan gambar alat ukur pada avo meter dengan KKM 75.
2.       Siswa kelas X TITL 1 akan dapat menyebutkan fungsi-fungsi alat ukur jika diberikan gambar alat ukur avo meter dengan KKM 75, Dan lain sebagainya.
2.       Teori Quantum Teaching dan Quantum Learning
Model pembelajaran Quantum Learning
                Model pembelajaran merupakan suatu pola/rencana yang dilakukan untuk mengorganisir unsur-unsur (komponen-komonen) pembelajaran. Model pembelajaran dalam penerapannya, secara umum bercirikan lima hal : sintaksis, hubungan guru-murid (prinsip reaksi guru), sistem sosial, penunjang (sistem pendukung), dan dampak intruksional (efek pengajaran/pengiring). Quantum Learning sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya. “Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan menguntip rumus klasik E=mc2, mereka alihkan energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi. “Sebagai pelajar, tujuan adalah meraih sebanyak mungkin cahaya : interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energy cahaya”. Pada kaitan inilah, Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan model pembelajaran, seperti : teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.
                Beberapa hal yang penting dicatat dalam Quantum Learning adalah sebagai berikut. Para siswa dikenali tentang “kekuatan pikiran” yang tak terbatas. Di tegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimiliki ileh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memberikan bagaimana proses otak itu bekerja. Melalui hasil penelitian Global learning , dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan cara yang menyenangkan. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Seriap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan”.
Model Pembelajaran Quantum Teaching
                Terdapat beberapa pendapat oleh para ahli pendidikan tentang pengertian Quantum Teaching. Berikut dijelaskan pendapat para ahli pendidikan buku maupun situs internet tengtang pengertian Quantum Teaching. Quantum Teaching merupakan orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Kesimpulan
                Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Quantum Teaching dengan kerja kelompok Hasil Belajar kelas X Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) Pengukuran listrik SMK Jakarta 1 Jakarta Timur melalui hasil belajar dan hasil praktik dapat menghasilkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dan menuntut siswa untuk dapat menguasai kompetensi yang akan dicapai.
                Dalam penggunaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan kerja kelompok dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena dengan menerapkan strategi baru siswa tidak merasa jenuh sehingga termotivasi dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
                Pada siklus I kegiatan yang dirancang oleh peneliti adalah dengan Pre Test dan Post Test dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching  dengan kerja kelompok ialah dapat mendeskrisikan jenis-jenis dan fungsi alat alat ukur besaran listrik dipasar kerja dengan KKM 75 dengan menggunakan modul, dan LKS. Pada siklus 1  hasil belajar meningkat dengan nilai rata-rata evaluasi siswa adalah 79,21 dengan tingkat kelulusan 94,44%. Pada siklus 2 belajar meningkat dengan menggunakan Job sheet mempraktikkan mengukur arus, tegangan AC dan DC serta mengukur resistansi dengan KKM 75, rata-rata evaluasi siswa adalah 81,20 dengan tingkat kelulusan 100%. Pada siklus ke 3 belajar meningkat dengan menghitung hasil pengukuran besaran listrik seri maupun pararel dengan rata-rata evaluasi siswa adalah 79,75 dengan tingkat kelulusan 100 %.
                Berdasarkan hasil prosentase hasil rata-rata siswa, motivasi siswa, perasaan siswa dengan model pembelajaran Quantum Teaching dengan kerja kelompok dan pemantauan siklus dapat disimpulkan pengukuran listrik dengan SK Menggunakan Hasil Pengukuran KD Melakukan pengukuran besaran listrik melalui model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar kelas X Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) di SMK Jakarta 1.




DAFTAR PUSTAKA
Bobbi DePorter, Mike Hernacki. 2000. Quantum Learning. Bandung : Kaifa.
Miftahul A’la. 2010. Quantum Teaching . Jogjakarta : Diva Press.
Nana Sudjana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Bobbi DePorter, Mark Reardo, Sarah Singer Nourie, 2000. Quantum Teaching. Bandung : Mizan Pustaka.




[1] Bobbi DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie. Ibid, p. 10.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar